Darma Wanita Persatuan SMAN 1 Sumenep (DWP SMANSA) melaksanakan kegiatan Wisata Religi dan Budaya ke Blitar. Kurang lebih 26 pegurus dan anggota DWP SMANSA Sumenep mengikuti acara tersebut. Acara Wisata Religi dan Budaya dilaksanakan pada hari Sabtu (21 September 2024).
Terdapat enam destinasi wisata yang akan kunjungi. Semua destinasi wisata berada di Kota Blitar dan sebagian berada di Kabupaten Blitar. Destanasi yang hendak dituju antara lain, Masjid Ar-Rahman, Perpustakaan dan Museum Presiden Soekarno, Makam Presiden Sekarno, Istana Gebang. Juga wisata edukasi Omah Jenang, wisata edukasi Kampung Coklat. Terakhir, bersilaturahmi sekaligus beristirahat ke rumah salah satu anggota DWP SMANSA yang pindah tugas ke Blitar.

Keberangkatan Menuju Masjid Ar-Rahman
Titik kumpul dan keberangkatan rombongan Wisata Religi dan Budaya di SMAN 1 Sumenep. Rombongan DWP sebagian besar adalah ibu-ibu dan terdapat empat para bapak sebagai pendamping. Turut membersamai rombongan yaitu kepala sekolah SMAN 1 Sumenep yang bertindak sebagai ketua rombongan. Rombongan berangkat dari Sumenep sekitar pukul 22:00 wib (20/9/2024) dengan menggunakan armada satu unit bus ukuran besar. Sebelum berangkat rombongan melakukan doa bersama dipimpin oleh kepala sekolah.
Rombongan DWP SMANSA menikmati dan larut dalam perjalan darat menumpangi bus. Ada yang tidur pulas dan ada sebagian yang bermain gawai mengisi waktu tempuhan perjalanan. Sekitar pukul 04:40 wib (21/9/2024) rombongan tiba di Masjid Ar-Rahman Kota Blitar. Di Masjid yang ikonik dan vibe-nya seperti masjid nabawi kota Madinah, rombongan melaksakan sholat subuh sambil mandi pagi dan berganti pakain. Setelah shalat subuh rombongan menimati keindahan dan ketenangan masjis Ar-Rahman. Mereka mengabadikan momen dengan melakukan swafoto juga foto bersama dengan latar masjid.
Sekitar pukul 07:00 wib seluruh rombongan kembali ke bus untuk menuju tempat sarapan. kegiatan menikmati sarapan dilakukan di sebuah warung berdekatan dengan komplek makam Presiden Soekarno. aAa yang memesan sarapan pecel khas Blitar, ada pula yang menikmati sarapan nasi rawon dan nasi campur.

Perpustakaan dan Museum Presiden Soekarno
Selesai sarapan rombongan langsung menuju ke komplek makam Presiden Soekarno dengan berjalan kaki. Rombongan terlebih dahulu berkunjung ke museum dan perpustakaan yang satu komplek dengan makam Presiden Soekarno. Karena masih terlalu pagi, rombongan tidak bisa langsung masuk ke museum dan perpustakaan Presiden Soekarno. Mengisi penantian jam dibukanya museum, rombongan melakukan foto bersama di sekitar museum dan perpustakaan.
Setelah melakukan lobi dengan pihak pengelola museum dan perpustakaan, maka rombongan DWP SMANSA diperkenankan masuk lebih awal. Kemudahan itu diperoleh dengan pertimbangan rombongan dari Sumenep menempuh perjalanan lama dengan jarak yang jauh, serta masih banyak agenda lainnya yang akan dikunjungi.
Di dalam museum dan perpustakaan Presiden Soekarno rombongan dipersilakan duduk di aula khusus pengunjung. Kemudian menyimak penjelasan dan keterangan yang diberikan pemandu wisata tentang komplek makam Presiden Soekarno termasuk museum dan perpustakaan. Pada bagian akhir penjelasan, pemandu memberikan kesempatan kepada rombongan untuk bertanya. Tedapat dua pertanyaan yang diajukan, keduanya dijawab oleh pemandu dengan jawaban yang sangat memuaskan juga memberikan informasi dan pengetahuan baru bagi rombongan DWP SMANSA Sumenep.

Setelah mendapatkan penjelasan dari pemandu, rombongan menuju aula pemajangan foto dan koleksi tentang Presdien Soekarno. Terdapat beberapa buku karya Presiden Soekarno di antaranya Sarinah dan di Bawah Bendera Revolusi. Juga terdapat ratusan foto Presiden Soekarno saat kecil, remaja, dewasa, . Saat Presiden Soekarno belajar di Surabaya dan Bandung. Juga foto saat menikah, menjadi presiden, serta melakukan kunjungan ke negara lain dan menerima kunjungan dari peminpin negara lain. Serta terdapat pula foto saat Presiden Soekarno melaksanakan wukuf di Padang Arofah dengan dengan pakaian ihrom saat melaksanakan ibadah haji di Kota Makkah. Selain itu, juga terdapat beberapa sertikat atau piagam penghargaan yang diterima Presdien Soekarno. Terdapat sekitar empat belas gelar doktor honoris causa (hc) yang diterima Presdien Soekarno sebagai pemberian dari Kampus di Asia, Eropa dan Amerika.
Komplek Makam Presiden Soekarno
Selesai menikmati foto-foto dan karya Presiden Soekarno, rombongan bergegas keluar gedung museum dan perpustakaan. Rombongan menuju area makam Presiden Soekarno yang berada dekat dengan museum sekitar lima puluh meter dengan agenda melakukan ziarah. Rombongan berjalan kaki dengan terlebih dahulu memasuki gapura komplek makam. Di komplek makam Soekarno rombongan DWP SMANSA diterima oleh pemandu atau juri kunci makam. Terpantau ada dua kelompok ziarah yang sedang berada dekat dengan makam Presiden Soekarno. Setelah antri sekitar sepuluh menit, akhirnya rombongan diperkenankan maju mendekat ke makam Presiden Soekarno. Rombongan memanjatkan doa dipimpin oleh Dr. Didik Molyadi, seorang dosen pada IAIN Madura yang ikut bersama rombongan. Selesai memanjatkan doa, rombongan melakukan foto bersama dengan latar komplek makam Presiden Soekarno.

Pemandu komplek makam atau juri kunci mengatur kelompok ziarah. Setiap kelompok diperkenankan maju dan mendekat pada makam setelah kelompok sebelumnya telah meyelesaikan ritual ziarah. Pada akhir ziarah, rombongan dipersilakan untuk menaburkan bunga pada makam presiden Soekarno. di komplek makam Presiden Soekarno terdapat tiga makam, yaitu orangtua lelaki atau ayah presiden Soekarno bernama R. Soekeni Sostrodihardjo, Presiden Soekarno, dan makam ibu presiden bernama Ny. Ida Aju Nyoman Rai Soekeni Sosrodihardjo.
Selesai ziarah, rombongan bergegas keluar komplek makam melewati beberapa gerai Usaha Kecil Menengah dan Mikro (UMKM). Rombongan berbelanja pernak-pernik memorabelia Presdien Soekarno berupa fota dan kaos. Belanja pernak-pernik dan kerajinan tangan khas Blitar seperti gendang, mainan anak-anak, sandal, sepatu. Juga belanja makanan dan buah khas Blitar berupa blimpbing. Pakaian daster, kemeja batik Blitar dan baju koko. Serta beberapa peralatan dapur seperti cobek dan tak lupa bumbu pecel khas Blitar. Selesai berbelanja rombongan meniggalkan area komplek makam Presiden Soekarno pada pukul 09:45 wib. Melanjutkan perjalan menuju Istana Gebang dengan menggunakan bus.
Istana Gebang
Sekitar Pukul 10:00 robongan menginjakkan kaki di Istana Gebang yang masih berada dalam kota Blitar. Istan Gebang merupakan rumah tempat tinggal Presiden Soekarno beserta keluarga besarnya. Presiden Seokarno lahir dan menjalani masa kanak-kanak di Istana gebang.
Masuk ke dalam istana Gebang para pengujung harus membuka sandal atau sepatu yang dikenakan. Dimasukkan pada kantong warna merah yang disediakan di sisi kanan teras ruang masuk ke rumah yang sedikit meninggi. Rombongan memasuki ruang tamu Istana Gebang dengan beberapa kursi tamu dari kayu. Pada beberapa tempok ruang tamu terpampang foto Presiden Soekarno, foto ibunda dan ayah sang presiden.

Rombongan terus berjalan memasuki pada ruangan yang lebih dalam. Terdapat ruang keluarga dan kamar tidur. Pada ruang sebagai kamar tidur ada ranjang tempat tidur terbuat dari besi dengan kasur kapuk. Seluruh bagian ranjang besi itu ditutupi kelambu berwarna putih. Adapun fungsi dari kelambu adalah sebagai penghalang nyamuk masuk ke area dalam tempat tidur, supaya orang yang sedang tidur tidak terganggu dengan gigitan nyamuk. Zaman dulu tidak ada obat pengusir atau pembunuh nyamuk, sebagai solusinya tempat tidur ditutup dengan kain kelambu.
Selain raanjangg, di dalam kamar tidur terdapat juga lemari terbuat dari kayu sebagai tempat menyimpan pakaian. Juga terdapat bufet atau tolet kayu dilengkapi dengan kaca sebagai tempat untuk berkaca dan berias. Juga ada meja kayu ukuran kecil tempat menyimpan hiasan dan pernak=pernik dan meletakkan barang kecil.
Terus masuk kebagian dalam rombongan memasuki kamar tidur yang dilengkapi dengan kamar mandi di dalam. Kamar tidur yang satu ini sangat luas dibanding lainnya. Begitupun dengan kamar mandinya cukup luas pula. Semua kamar tidur masih terawat dengan baik. lantai kamar dengan tegel kuno masih terpasang kuat dan tidak nampak adanya keretakan.
Ada ruangan keluarga yang sangat luas. Di ruang keluarga terdapat satu set kursi kayu kuno. Ruang ini juga berfungsi sebagi ruang kerja, ada mesin ketik kuno yang digunakan oleh ayah Presiden Soekarno dalam menjalankan tugas sebagai guru. Pada ruang ini pengujung disajikan foto dan lukisan priseden Soekarno beserta keluarga. Di sisi utara ruangan terpasang lukisan ukuran besar Presiden Soekarno sedang menunggangi kuda dengan pakaian kebesaran khas militer.
Pada bagian belakang terdapat beberapa ruang yang terpisah dari ruang utama di bagian depan. Pada bagain belakang terdapat kurang lebih tiga kamar. Ada yang berfungsi sebagai tempat makan dan ada yang berfungsi sebagai penyimpanan barang. Terdapat sumur sebagai pemenuhan kebutuhan air keluarga untuk minum, masak, cuci dan mandi. Air diangkat dengan menggunakan pompa besi tenaga manusia. Selain pompa besi, ada kerekan mengangkat air dari dasar sumur. Tali kerekan terbuat dari ban bekas, begitupun ember atau timba yang terpasang pada tali terbuat dari ban bekas yang lumayan tipis.
Dapur tempat memasak adalah ruangan paling belakang. Di dapur terdapat dua tungku untuk memasak. Tungku dinyalakan dengan menggunakn bahan bakar berupa kayu. Ukuran tungku lumayan besar. Posisi dua tungku tidak pas berdempetan, melainkan ada sedikit jarak yang memisahkan antar tungku satu dengan tungku dua.
Setelah melewati dapur tempat memasak rombongan berjalan ke luar menuju garasi penyimpanan mobil. Garasi mobil terdapat di bagian luar istana sisi kanan agak belakang. Terdapat satu unit mobil kuno yang tersimpan. Katanya, mobil ini adalah kendaraan yang dipakai oleh Presien Soekarno dalam menjalankan aktivitasnya teutama saat berkunjung ke Blitar. Mobil kuno merk Mercides-Bens tipe 190 asal pabrikan Jerman bernomor polisi AG 390 N. Pada bagian depan tubuh mobil terdapat logo Merah Putih sebagai bendera Indonesia untuk menandakan bahwa kendaraan ini khusus Presiden RI. Serta terapat papan kecil berbentuk balok warna merah bertuliskan INDONSEIA, dan dibawahnya ada angka 1 ukuran kecil. Sedangkan tulisan dan angka berwarna putih sehingga sangat mencolok.

Omah Jenang
Sekitar pukul 10:45 rombongan DWP SMANSA meninggalkan Istana Gebang menuju destinasi berikutnya yaitu Omah Jenang. Wisata edukasi Omah Jenang terletak di Desa Rejowinangon Kecamamatan Kedemangan masih di Kota Blitar. Rombongan tiba di Omah Jenang pada pukul 11:10 wib. Turun dari bus berjalan kaki menuju rumah produksi jajanan tradisional yang terkenal di Blitar.
Rombongan di terima oleh pemilik dan lansung diajak melihat proses produksi Jenang. Omah Jenang memproduksi jajanan tradisonal di antaranya Jenang (dodol), wajik, dan madumungso. Robongan DWP melihat secara langsung pembuatan wajik dan jenang. Beberapa anggota DWP mencoba melakukan tahapan proses pembuatan yaitu mengulek adonan yang dipanaskan diatas tungku kayu bakar. Adonan tepung atau beras dimasukkan ke dalam kuali alumunium berukuran sangat besar. Sebelumny, tungku telah dinyalakan dengan kayu bakar. Adonan terus diulek secara merata supaya tidak kering atau berkerak akibat terlalu panas. Terus diulek selama enam jam sampai aroma dinyatakan masak dan aroma khas telah keluar.
Setelah masak, adonan didinginkan dengan cara diangkat dan ditempatkan di atas wadah terbuka. Jika telah dingin adonan siap di-packing atau dikemas oleh karyawan yang semuanya perempuan. Pengemasan dilakukan secara tradisonal menggunakan tangan manusia tanpa bantuan tenaga mesin. Sumber panas api yang digunakan memasak adonan berasal dari pembakaran kayu bakar jenis akasia. Menggunakan kayu bakar akasia karena adonan yang dimasak akan mengeluarkan aroma khas. Sedangkan jika menggunakan sumber api dari LPG, adonan yang dimasak tidak mengeluarkan aroma khas.
Omah Jenang Blitar berdiri sejak tahun 1985 oleh H. Nyoto. Usaha pembuatan jajanan tradisional dilanjutkan oleh anaknya. Omah Jenang memproduksi jajan berupa Jenang (dodol), wajik ketan biasa, wajik klethik, dan madumungso. Jenang dibuat dari tepung ketan dicampur dengan santan dan gula. Wajik ketan biasa dibuat dari bahan beras ketan dicampur dengan santan dan gula. Wajik klethik terbuat dari beras ketan dicampur dengan parutan kelapa muda yang dibakar, ditambah dengan santan dan gula aren. Sedangkan madumungso dibuat dari bahan utama fermentasi (tape) beras ketan hitam dicampur dengan gula pasir dan gula merah serta santan.
Pemilik wisata edukasi Omah Jenang menuturkan bahwa produksi jajanan jenang dan wajik dan madumungso dipasarkan lansung di show room miliknya yang berada di pinggir jalan raya menuju jalan masuk rumah produksi. Jenang juga dikirim ke wilayah sekitar di antaranya, Kediri, Nganjuk, Jombang, Malang, Madiun, Magetan, termasuk pula ke Solo dan Jogyakarta. Omang Jenang juga melakukan penjualan secara online melalui market place seperti shopee, dan menggunakan media sosial instagram. Omah Jenang tidak hanya melayani permintaan dalam negeri, sewaktu-waktu menerima permintaan dari luar negeri seperti Malaysia, Taiwan, dan dari beberapa negara Arab. Pembeli luar negeri adalah orang Jawa yang lama tinggal dan menetap di luar negeri. Mereka merasakan kangen terhadap jajanan tradisional khas Jawa.
Selesai melihat langsung produksi jajanan tradisional di Omah Jenang, rombongan DWP SMANSA melanjutkan menyantap sajian makan siang di aula joglo komplek Omah Jenang. Makanan siang yang disajikan berupa masakan tradisional Blitar, terdiri dari nasi putih, sayur kauh tewel, sayur urap, tahu-tempe, daging ayam bumbu santan, serta sambal dan kerupuk. Selesai makan siang rombongan pamit meninggalkan Omah Jenang melanjutkan perjalanan menuju wisata edukasi Kampung Coklat.
Kampung Coklat
Sekitar Pukul 12:30 wib rombongan tiba di wisata edukasi Kampung Coklat yang berlokasi di Jln. Banteng Blorok, Desa Plosorejo, Kec. Kademangan, Kabupaten Blitar. Kampung Coklat merupakan destinasi wisata edukasi khusus mempelajari tanaman kakao sebagai bahan utama pembuatan coklat. Mulai dari pembudidayaan tanaman kakao, pengolahan biji kakao, serta pengemasan sekaligus pemasaran. Tidak hanya tentang coklat, area Kampung Coklat didalamnya penuh dengan wahana sebagai sarana rekreasi dan hiburan keluarga dan komunitas.
Selesai shalat duhur di musala area Kampung Cogklat, rombongan DWP SMANSA diajak oleh pemandu untuk menyaksikan secara lansung seluruh proses pembutan coklat mulai dari penanaman biji buah kakao. Pemandu mengajak rombongan melihat budidaya tanaman kakao mulai dari penanam bibit. Pemandu menjelaskan bahwa tidak ada pohon atau tanaman coklat, yang ada adalah tanaman atau pohon kakao. Biji buah kakao yang sudah tua dikeringkan dengan panas matahari antara tujuh sampai sembilan hari. Setelah betul-betul kering biji kakao ditanam di polibag ukuran kecil dengan media tanam tanah dicampur pupuk alami. Setiap hari disiram dengan air secukupnya. Dalam hitungan tujuh hari biji kakao akan tumbuh mengeluarkan daun. Setelah sekitar usia delapan minggu dengan tinggi 24-34 cm dengan daun sekitar 11 helai, maka bibit kakao bisa dipindah dari polibag ke media tanam tanah biasa.

Perawatan tanaman kakao sangatlah mudah. Disiram tiap hari dengan air secukupnya, dan harus terkena sinar matahari secara langsung. Kakao merupakan tanaman tropis yang sangat cocok dengan iklim di daerah Indonesia. Perawatan kakao cukup dengan pemupukan menggunakan pupuk kandang berupa kotoran sapi atau kotoran kambing. Setelah itu perawatan dari gangguan hama atau penyakit yang menyerang tanaman kakao. Terdapat tiga jenis tanaman kakao, yaitu Criollo, Forastero, dan Trinitario.
Sekitar usia antara empat sampai enam tahun pohon kakao sudah siap berbunga untuk menghasilkan buah pertamanya. Pada masa ini seluruh daun yang ada di pohon hilangkan dengan cara di potong atau digunting. Tujuannnya agar pohon kakao kuat dan betu-betul siap untuk memperoduksi buah. Butuh waktu lima sampai enam bulan untuk bisa dipanen. Masa produktif tanaman kakao umunya sekitar lima belas (15) tahun. Lebih dari waktu itu pohon kakao tidak produktif lagi.
Buah kakao yang dijadikan bahan utama pembuatan coklat adalah bijinya. Buah Kakao yang telah tua di panen, kemudian buah pecah lalu dijemur sampai kering selama satu minggu. Setelah kering, biji kakao disangrai hingga berwarna gelap dan mengelarkan aroma atau citarasa.
Setelah melihat pembudidayaan tanaman kakao, rombongan diajak melihat secara langsung prose produksi atau pembuatan coklat. Rombongan menyaksikan secara langsung seluruh proses dan tahapan mengolah buah kakao menjadi coklat melalui ruang produksi dengan dinding kaca transparan. Seluruh proses mulai dari penyangraian, penggilingan hingga pemadatan. Setelah itu hasil pemadatan yang berupa produk stengah jadi diolah menjadi panganan coklat dengan segala varian (rasa dan campuran) serta bentuk tampilan. Kemudain berbagai varian coklat dan bentuk di kemas dan siap dipasarkan.
Pada bagian akhir, pemandu mengajak rombongan DWP SMANSA merasakan olahan coklat yang masih cair. Selesai menikmati olahan coklat yang masih cair, pemandu mengantarkan rombongan pada galeri penjualan produk coklat yang dihasilkan oleh Kampung Coklat. Setelah itu, pemandu mengakhiri tugas pemanduan dan pamit untuk kembali ke tempat awal. Rombongan DWP SMANSA melihat dan berbelanja berbagai produk coklat yang dijual. Gerai dolengkapi dengan contoh produk panganan coklat dengan informasi prosentase kandungan bahan utama coklat dengan bahan campuran. Ada 76 persen bahan coklat dan sisanya adalah bahan campuran seperti susu, gula dan lemak. Ada 80 persen dan 90 persen bahan coklat sisanya bahan campuran. Serta yang 100 persen coklat tanpa bahan campuran dengan aroma coklat yang kuat dan sedikti pahit.

Puas melihat dan berbelanja berbagai produk coklat, rombongan kembali ke bus untuk melanjutkan pada tujuan terakhir yaitu bersilaturrahmi atau berkunjung ke rumah salah satu anggota DWP SMANSA yang berpindah tugas ke Blitar. Rombongan meninggalkan wisata edukasi Kampung Coklat sekitar pukul 15:00 wib.
Silaturrahmi dengan Anggota DWP SMANSA yang Pindah Tugas
Tujuan terkahir Wisata Religi dan Budaya yaitu silaturrahmi atau mengunjungi salah satu anggota yang pindah tugas dari SMAN 1 Sumenep menuju satu sekolah di Blitar. Anggota tersebut bernama Ibu Naning Suci Mulyani, S.Pd. Beralamat di RT. o1 RW 08 Sekardangan, Papungan, Kanigoro, Kabupaten Blitar. Rombongan DWP SMANSA bersilaturrahmi dan beramah tamah dengan Ibu Naning beserta keluarga. Banyak bercerita tentang masa kebersamaan dengan Ibu Naning selama berada di SMAN SUmnep. Juga bercerita tentang proses kepindahan Ibu Naning ke Blitar. Segala hal diceritan, segala hal dibicarakan sehingga tidak terasa waktu telah menjelang malam.
Di rumah Ibu Naning rombongan DWP sambil beristirahat dari capeknya melakukan perjalanan. Juga mandi dan berganti pakaian. Selain itu, menikmati panganan bakso dan minuman es buah yang disajikan kelarga besar Ibu Naning. seluruh rombongan merasakan persaudaraan yang sangat dekat dan kuat sekalipun telah berpisah jarak akibat perpindahan tugas. Karena waktu telah telah beranjak menuju malam akhirnya rombongan bergegas untuk melanjutkan pulang dan kembali ke Sumenep. Sebelum itu, pamit pulang rombongan Pangurus dan anggota DWP SMANSA menyerahkan kenangan-kenangan ke Ibu Naning, juga melakukan foto bersama sebagai kenangan dari kebersaman untuk diingat dan diceritakan.

Pukul 17:15 wib rombongan DWP SMANSA pamit dan meninggalkan rumah Ibu Naning. Rombongan melakukan perjalanan pulang menuju Sumenep menembus suasana malam dari dalam armada bus yang ditumpangi. Suasana perjalanan pulang di dalam bus terasa sangat sepi, sebab rombongan banyak yang tidur untuk pemulihan tenaga setelah seharian melakukan aktivitas perjalanan yang sangat melelahkan. Sekitar pukul 02:00 wib rombongan DWP SMANSA tiba di SMAN 1 Sumenep dengan selamat. Sebagian langsung pulang dengan sepeda motor yang dikendarai waktu keberangkatan yang diparkir di sekolah. Sementara yang lain menunggu jemputan sambil duduk santai di area depan SMA 1 Sumenep beristirahat dari lelahnya menempuh perjalanan yang sangat panjang.
Kegiatan Wisata Religi dan Budaya memberikan kesan baik bagi anggota DWP SMANSA yang turut serta. Ibu Yuliantin Taufik mengungkapkan, Wisata Religi dan Budaya merupakan perjalanan yang menyenangkan, dengan akomodasi yang baik. Program ini menambah pengetahuan sejarah dan ke-khas-an tempat yang dikunjungi. Juga, menambah keakraban anggota DWP dengan cerita seru yang terjadi selama perjalanan. Demikan kesan yang diungkapkan oleh ibu muda yang suaminya mengajar matematika di SMAN 1 Sumenep.
Kegiatan Wisata Religi dan Budaya yang dilaksanakan oleh DWP SMAN 1 Sumenep ke Blitar mendekatkan seluruh anggota dan pengrus dengan suasana keakraban dan kekeluargaan. Kita banyak tahu tentang sejarah hidup dan perjuangan Presiden Pertama Republik Indonesia Bapak Ir. Soekarno. Selain itu, anggota DWP mendapat pengalaman dan pengetahun baru dalam membangun jiwa wirausaha. Dra. Hj. Hafida mengungkapkan kesan mengikuti kegiatan Wisata Religi dan Budaya yang diselenggarakan oleh DWP SMAN 1 Sumenep.
Sementara itu, Ibu Arfiah Rini, S. AN. menyatakan kesan mengikuti acara Wisata Religi dan Budaya yang banyak manfaat dan menyenangkan. Sangat menyenangkan dan banyak membawa manfaat bagi para peserta. Di antaranya, menambah wawasan tentang sejarah yang semula tidak tahu menjadi tahu, lebih mengenal sosok pahlawan besar Negara Indonesia beserta keluarganya, juga sempat belajar cara membuat olahan produk rumahan dari tahap produksi, pengemasan hingga pemasaran, serta menjadi sarana menjalin silaturahmi dan kebersamaan, dan kekompakan dalam berkegiatan. Demikan ungkap Ibu Rini, nama panggilannya, saat dimintai kesan selama mengikuti kegiatan Wisata Religi dan Budaya.
Sedangkan Ibu Hj. Chairunnisak, S.Pd. mengungkapkan kesan yang diperoleh saat mengikuti Wisata religi dan Budaya dengan ungkapan sederhana namun penuh makna. Ibu Hj. Anis, demikian dipanggil mengungkapkan, Banyak hal yang kita dapatkan di sana. Kekaguman kita pada tempat ibadah yang mirip bangunan masjid di kota Mekkah dan Madinah. Bisa mengetahui sekaligus menikmati olahan coklat yang benar-benar enak. Teman-teman juga bisa mengunjungi dan bersilaturrahmi dengan Ibu Naning di tempat tugas barunya.
Itulah beberapa kesan yang didapatkan oleh anggota DWP SMAN 1 Sumenep selama mengikuti kegiatan Wisata Religi dan Budaya ke Blitar. Semua peristiwa yang dilalui selama menempuh perjalan dan mengunjungi berbagai destinasi wisata menjadi kenangan manis dan menyenangkan yang tersimpan kuat dalam memori otak masing-masing. Sebuah kenangan tentang kebersamaan, persaudaraan, dan kekompakan dalam ikatan Keluarga Besar Darma Wanita Persatuan SMAN 1 Sumenep.[Syafiuddin Syarif]
